BALI

Kemaraunya terasa begitu panjang
Hujannya tak kunjung bertandang

Lalu dengan apa aku harus meluruhkan semua rindu yang kian menebal?

Jadi?
Bolehkah hujannya digantikan oleh keberadaanmu? Disini?
Dan mengganti teh hangatku dengan secangkir kopi untukmu.

Lalu, waktu akan ku berhentikan sedetik untukku, untuk kita.
Mengamini segala doamu untukku, untuk kita. at Pura Ulun Danu Bratan – View on Path.

Kemaraunya terasa begitu panjang
Hujannya tak kunjung bertandang

Lalu dengan apa aku harus meluruhkan semua rindu yang kian menebal?

Jadi?
Bolehkah hujannya digantikan oleh keberadaanmu? Disini?
Dan mengganti teh hangatku dengan secangkir kopi untukmu.

Lalu, waktu akan ku berhentikan sedetik untukku, untuk kita.
Mengamini segala doamu untukku, untuk kita. at Pura Ulun Danu Bratan – View on Path.

Ternyata dalam keramaianpun, kerinduanku sanggup menemukanmu
Bagaimana dengan rindu-rindumu, sayang?

Apakah dengan berada dalam sepi sanggup mempertemukan kita nantinya? Ahhh itu yang sangat kuharapkan.

Dengan begitu, tak pernah ada jeda diantara kita
Bukankah hidup yang terdiri dua kondisi? Ramai atau sepi.

Pagi di Puraulundalu, saat memilih menyepi sendiri ditengah keriuahan, 24 September 2015, @10.05 – View on Path.

Ternyata dalam keramaianpun, kerinduanku sanggup menemukanmu
Bagaimana dengan rindu-rindumu, sayang?

Apakah dengan berada dalam sepi sanggup mempertemukan kita nantinya? Ahhh itu yang sangat kuharapkan.

Dengan begitu, tak pernah ada jeda diantara kita
Bukankah hidup yang terdiri dua kondisi? Ramai atau sepi.

Pagi di Puraulundalu, saat memilih menyepi sendiri ditengah keriuahan, 24 September 2015, @10.05 – View on Path.

Rasa rindu untukmu yang kutitipkan lewat awan ternyata tak pernah tiba di tujuan
Rinduku jatuh berserak ditengah jalan

Ahh, sayang :’(

Padahal ingin kubagi rinduku – setengah untukmu, separuh untukku
Agar aku tak pilu sendirian menanggung rindu

Sudahlah, sepertinya kau baik-baik saja tanpa aku.. – View on Path.

Rasa rindu untukmu yang kutitipkan lewat awan ternyata tak pernah tiba di tujuan
Rinduku jatuh berserak ditengah jalan

Ahh, sayang 😥

Padahal ingin kubagi rinduku – setengah untukmu, separuh untukku
Agar aku tak pilu sendirian menanggung rindu

Sudahlah, sepertinya kau baik-baik saja tanpa aku.

Secangkir espresso

Kelak, jika kau telah lelah melangkah, kau telah penat dengan duniamu, sapalah aku.. Aku ada.. selalu ada.”

poeticonnie:

Pelajaran dari secangkir espresso:

Satu

Bahwa ada kalanya hidup itu teramat pahit, tapi sesuatu yang sangat biasanya tak berlangsung selamanya.

Dua

Bahwa kepahitan yang teramat kadang memang harus ada, agar kita terbangun dari tidur dan tetap terjaga.

Tiga

Bahwa tanpa rasa pahit, rasa manis tak terasa nikmatnya.

Empat

Bahwa yang awalnya hangat, kemudian akan menjadi dingin. Nikmati dan sesap sajalah selama masih hangat, dan jadikan sebagai pengingat: betapa nyamannya rasa hangat itu. Lalu hangatkan lagi. Nyalakan lagi apinya, pemanasnya.

Lima

Bahwa yang kecil tak harus dianggap remeh. Kadang ia istimewa karena kecil. Di tubuhnya yang mungil ia mungkin menyimpan lebih banyak kekuatan dibanding yang besar.

Enam

Bahwa sebenarnya kita tak harus punya banyak untuk menikmati hidup. Sedikit, tapi berkualitas. Itu lebih penting dari yang banyak tapi malah merusak. Gula, susu yang berlimpah dalam segelas besar kopi malah memuakkan, bukan?

Tujuh

Bahwa kesederhanaan itu kekal. Selalu ada tanpa terlihat “murahan”.

Delapan

Bahwa kita perlu memiliki sesuatu untuk memulai dan menjalani hari. Yang selalu ada, yang selalu setia, selalu menemani.

Sembilan

Bahwa setiap orang punya tujuan tertentu saat membeli sesuatu. Ada yang memang butuh, ada yang karena ingin terlihat keren.

Sepuluh

Bahwa sebenarnya apa yang bisa dinikmati di tempat-tempat yang “asyik”, juga bisa dinikmati di rumah. Orang kadang ingin mencari suasana baru saja, bukan kenikmatan yang sama.

Selamat menjemput sore. – View on Path.

poeticonnie:

Pelajaran dari secangkir espresso:

Satu

Bahwa ada kalanya hidup itu teramat pahit, tapi sesuatu yang sangat biasanya tak berlangsung selamanya.

Dua

Bahwa kepahitan yang teramat kadang memang harus ada, agar kita terbangun dari tidur dan tetap terjaga.

Tiga

Bahwa tanpa rasa pahit, rasa manis tak terasa nikmatnya.

Empat

Bahwa yang awalnya hangat, kemudian akan menjadi dingin. Nikmati dan sesap sajalah selama masih hangat, dan jadikan sebagai pengingat: betapa nyamannya rasa hangat itu. Lalu hangatkan lagi. Nyalakan lagi apinya, pemanasnya.

Lima

Bahwa yang kecil tak harus dianggap remeh. Kadang ia istimewa karena kecil. Di tubuhnya yang mungil ia mungkin menyimpan lebih banyak kekuatan dibanding yang besar.

Enam

Bahwa sebenarnya kita tak harus punya banyak untuk menikmati hidup. Sedikit, tapi berkualitas. Itu lebih penting dari yang banyak tapi malah merusak. Gula, susu yang berlimpah dalam segelas besar kopi malah memuakkan, bukan?

Tujuh

Bahwa kesederhanaan itu kekal. Selalu ada tanpa terlihat “murahan”.

Delapan

Bahwa kita perlu memiliki sesuatu untuk memulai dan menjalani hari. Yang selalu ada, yang selalu setia, selalu menemani.

Sembilan

Bahwa setiap orang punya tujuan tertentu saat membeli sesuatu. Ada yang memang butuh, ada yang karena ingin terlihat keren.

Sepuluh

Bahwa sebenarnya apa yang bisa dinikmati di tempat-tempat yang “asyik”, juga bisa dinikmati di rumah. Orang kadang ingin mencari suasana baru saja, bukan kenikmatan yang sama.

Selamat menjemput sore. – View on Path.

Senja

Dear tuan, apakah surat cinta yang kukirimkan sudah sampai ke tanganmu? Sebab aku cemas ada senja yang menyembunyikannya dalam pekatnya awan yang menghalangi sore ini. Surat2 itu berisi cerita-cerita kecilku saat aku sering salah mengetik huruf dalam sajak-sajakku karena seringnya aku membayangkan kau duduk disebalahku.. Tuan, tahukah bahwa bungkus surat2 cinta yang kukirimkan padamu adalah amplop yang kusulap dari warna jingga yang merona merah. Sengaja kubuat dan kulipat dengan hati2 agar percikan rindu tak berhamburan keluar saat kau membukanya kelak. Tuan, surat2 cintaku padamu tidak kuselipi gambar apapun, kau tau aku payah dalam hal menggambar, jadi jangan berharap aku menyisipkan coretan emo yang aneh2, mungkin hanya didominasi tanda titik dua bintang dan tanda kurung dua. Pernah aku menggambar emo dengan tersenyum, dia tampak aneh di suratku. kau pasti akan tertawa melihat hasilnya, matanya juling.. jadi disuratku nanti aku tidak lagi mengambar emo.. aneh rasanya. Tapi percayalah, disetiap aksara yang kutulis, ada cinta yang hangat untukmu. Tuan, aku bingung saat hendak menulis surat, kertas2 yang kupakai untuk menulis padamu adalah kertas yang kubeli di toko “tanpa nama”. Tak ada garis-garis di dalamnya seperti pada kertas lazimnya. Sengaja, agar ungkapan cintaku tak terbatasi olehnya. Aku ingin mencintaimu sepuas-puasnya tanpa sekat. Tuan, seperti kusebutkan di awal sajak ini, cerita2 kecil di surat2 cintaku padamu sebagian besar adalah cerita saat aku salah mengetik huruf dalam sajak-sajakku, saat aku kesepian, saat aku sendiri tanpa kau kirimi kabar seharian. Aku senang karena mengingatmu bagiku ada ketenangan dan kehangatan didalamnya. aku sangat menyukai percakapan kita, semangatmu adalah bisikan manja yang menuntunku berjalan meyusuri belantara buku. Tuan, jika surat-surat cintaku belum juga sampai padamu, maka sajak ini adalah caraku menyatakannya kembali padamu. Aku yakin dengan ini cintaku padamu ‘kan terus meruang dan mewaktu.. Aku yang ingin menghabiskan hari denganmu hingga senja tenggelam setiap hari.. Senja di Gilimanuk, menjlang berbuka puasa. 23 September 2015 @17.11 – View on Path.

Dear kamu, apakah surat cinta yang kukirimkan sudah sampai ke tanganmu? Sebab aku cemas ada senja yang menyembunyikannya dalam pekatnya awan yang menghalangi sore ini.

Surat2 itu berisi cerita-cerita kecilku saat aku sering salah mengetik huruf dalam sajak-sajakku karena seringnya aku membayangkan kau duduk disebalahku..

Kamu, tahukah bahwa bungkus surat2 cinta yang kukirimkan padamu adalah amplop yang kusulap dari warna jingga yang merona merah. 
Sengaja kubuat dan kulipat dengan hati2 agar percikan rindu tak berhamburan keluar saat kau membukanya kelak.

Kamu, surat2 cintaku padamu tidak kuselipi gambar apapun, kau tau aku payah dalam hal menggambar, jadi jangan berharap aku menyisipkan coretan emo yang aneh2, mungkin hanya didominasi tanda titik dua bintang dan tanda kurung dua.

Pernah aku menggambar emo dengan tersenyum, dia tampak aneh di suratku. kau pasti akan tertawa melihat hasilnya, matanya juling.. jadi disuratku nanti aku tidak lagi mengambar emo.. aneh rasanya.
Tapi percayalah, disetiap aksara yang kutulis, ada cinta yang hangat untukmu.

Kamu, aku bingung saat hendak menulis surat, kertas2 yang kupakai untuk menulis padamu adalah kertas yang kubeli di toko “tanpa nama”. Tak ada garis-garis di dalamnya seperti pada kertas lazimnya. 
Sengaja, agar ungkapan cintaku tak terbatasi olehnya.
Aku ingin mencintaimu sepuas-puasnya tanpa sekat.

Kamu, seperti kusebutkan di awal sajak ini, cerita2 kecil di surat2 cintaku padamu sebagian besar adalah cerita saat aku salah mengetik huruf dalam sajak-sajakku, saat aku kesepian, saat aku sendiri tanpa kau kirimi kabar seharian.

Aku senang karena mengingatmu bagiku ada ketenangan dan kehangatan didalamnya.
aku sangat menyukai percakapan kita, semangatmu adalah bisikan manja yang menuntunku berjalan meyusuri belantara buku.

Kamu, jika surat-surat cintaku belum juga sampai padamu, maka sajak ini adalah caraku menyatakannya kembali padamu.
Aku yakin dengan ini cintaku padamu ‘kan terus meruang dan mewaktu..


Aku yang ingin menghabiskan hari denganmu hingga senja tenggelam setiap hari..


Senja di Gilimanuk, 23 September 2005 @17.11 – View on Path