Mengagumi Seseorang

Mengagumi seseorang secara diam-diam adalah suatu hal yang   menyenangkan.

Mengapa harus diam-diam?

Bisa jadi, karena kekaguman itu tidak butuh apa-apa. Hanya bersyukur bahwa ia ada, menginspirasi, menjadi sumber kebahagiaan dengan hal-hal yang mungkin tidak logis. Bisa jadi, karena tidak kenal sama sekali dengan orang yang dikagumi, hanya tahu sekilas saja, atau malah terlalu dekat dan mengerti banyak hal, sehingga kondisi-kondisi tersebut akan lebih meningkatkan rasa canggung pada interaksinya. Bisa jadi, karena seseorang itu sudah terlalu banyak dikagumi oleh orang lain, kenyang dengan pujian, terbiasa menjadi selebriti, atau sudah mahir berpura-pura bahwa ia biasa saja meski terselip pemahaman tentang kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Bisa jadi, karena tidak ada celah atau bahkan sia-sia jika perasaan tersebut diungkapkan. Bisa jadi, apa lagi ya?

Seringkali, saya tersenyum melihat interaksi kecil yang pernah saya lakukan atau ketika tidak sengaja melihat orang-orang yang saya kagumi ada di timeline salah satu atau beberapa media sosial. Sesungguhnya, semakin saya mengagumi seseorang, semakin saya tidak ingin tahu tentang keaslian orang tersebut. Untuk apa? Bukankah kekaguman ada karena positivitas yang ia miliki?

Jadi, jelas berbeda dengan orang-orang terdekat atau orang-orang yang seringkali dirindukan, bukan?

Mahluk apa?

“I am just not afraid of being alone,”

Dia datang dari bumi sebelah sana, jauh ke sini untuk mencari lupa pada dunia. Pada suatu sore menjelang senja, dia menyari bahwa bentuk ganda muncul karena rasa takut pada tunggal semata.

Menjadi sendiri bisa membawa resah, terlebih ketika semua…

Padanya…

Saya harap Anda bertemu seseorang cukup berani untuk mencintai Anda.

Aku benar-benar membutuhkan Anda untuk keluar dari kepala saya. Berhenti muncul setiap kali saya menutup mata saya, atau setiap kali saya mendapatkan waktu untuk diri sendiri. Saat itu adalah untuk saya, bukan untuk saya dan Anda.Kau pergi, kau meninggalkan aku. Tidak tinggal di alam bawah sadar saya. Rasanya sakit terlalu banyak. Saya perlu melupakan Anda, karena mengingat, bahkan kenangan indah, istirahat saya turun baik secara fisik dan emosional. Aku tidak bisa melakukannya lagi. 

Aku tahu aku tidak pernah datang sekitaruntuk mengatakan ini, tapi aku sangat menyesal untuk apa pun yang pernah saya lakukan untuk Anda. Saya tidak tahumengapa Anda meninggalkan atau mengapa Anda memutuskan untuk mendorong saya keluar dari hidup Anda,tetapi jika itu karena sesuatu aku lakukan padamu, aku hanya harus mengatakan aku minta maaf. Aku tidak pernah bermaksuduntuk menyakiti Anda. Saya tahu sudah terlambat sekarang tapi tidak ada yangsaya lebih suka melakukan daripadamenelepon Anda benar sekarang dan memberitahu Anda berapa banyak aku mencintaimu dan itu tidak apa-apa Anda tidak ada di sana ketika saya membutuhkan Anda karena setidaknyaAnda adalah apa yang membuat saya kuat.Aku sangat menyesal. Aku sangat, sangat menyesal. Tidak apa-apa sekarang. Aku bersumpah, itu akan baik-baik saja. Aku akan baik-baik saja. Tapi aku perlu Andabaik-baik saja juga. ” 

Saat Langit Suram Menyapa Senja

Apa yang lebih indah daripada sore hari, dengan sebuah inspirasi yang terselip ketika senja bersolek dibalik horison, sambil menulis sebuah cerita dan ditemani kentalnya secangkir kopi hitam yang pekat?

Saat itu langit terlanjur gelap untuk kemudian bisa dipahami sebagai atap bumi. Mendung yang berarak, sore itu, membuat suasana senja yang beraroma kemuning tiba-tiba luluh dalam satu warna, abu-abu.

Semua hiruk pikuk dan denting keramaian yang sebelumnya masih ada sekejap berhenti begitu saja. Seperti seseorang dikejauhan menekan tombol stop dalam remot Mahakuasa. Mendung memang selalu membuat kesal siapapun yang sedang bersenang-senang di luar ruangan.

Sementara keramaian berangsur-angsur hilang, hujan pun seketika datang. Ditemani dengan gemuruh petir menyambar, riuh angin dan lampu-lampu yang mulai menyala. Namun sisanya masih sunyi. Hawa pun semakin dingin dan gelap pelan-pelan menyergap.

Awalnya saya hanya sedang ingin menghabiskan waktu senggang akibat hujan deras, yang bulir-bulirnya riuh berjatuhan di halaman rumah, yang wanginya mengirimkan sepasukan aroma tanah basah. Dan saya pun terdiam dengan jari jemari terus menulis dan menulis dan menulis.

Saya kira menulis itu soal menuangkan apa yang ada dalam pikiran dan membiarkanya melantur seperti anak-anak yang bermain perang. Lalu merapikannya pelan-pelan dan memberikan sebuah batasan yang jelas perihal apa saja yang hendak disampaikan dan apa yang tidak. Tapi rupanya menulis itu semacam membuka keran air dengan tangki sebesar lautan. Seperti banjir air bah yang kemudian menghanyutkan hal-hal remeh yang terlalu susah untuk ingat.

Lalu saya pun menatap senja yang telah pudar itu benar-benar menjadi gelap yang terlalu pekat. Dan ketika sedang asik menulis pada bagian klimaks catatan yang semula kecil perlahan jadi panjang, sebuah riuh bebunyian terdengar. Tapi saya terlalu acuh untuk kemudian berhenti dan peduli.

Malam akhirnya benar-benar tiba dan serangkaian cahaya serupa barisan kunang-kunang mulai bermunculan. Menciptakan bias warna merah, biru, kuning, hijau, dan putih polos. Tembok tembok yang kemudian temaram menjadi angkuh dengan lunturan warna. Saya pun masih tak peduli dan terus menulis catatan kecil yang menjadi panjang. Seperti sebuah janji  tak akan ada istirahat sebelum usai penaklukan.

“Kriiuiuiuiuiuiuiuik” dan bunyi keparat itu benar-benar memecah konsentrasi yang sedari pagi bangun dengan motivasi keangkuhan. Saya terpaksa harus tunduk kali ini. Rokok Marlboro sisa tadi malam tinggal ampas. Dengan malas saya berdiri berjenjang dan mulai menenggak air tawar. Seperti penawar dari semua racun yang menemani habis seharian.

Sedikit lagi selesai. Begitu saja dalam pikiran saya terus menerus berulang-ulang dan terus menerus. Menyelesaikan catatan kecil yang terlanjur panjang. Saya pun membacanya pelan-pelan. Dengan kerendahan hati seorang pendosa. Di tengah keheningan malam yang bahkan tak satupun setan yang sudi gentayangan. Lantas saya berkata lirih “Meh kok jadinya puisi galau?”

Terdengar ketukan panjang pada keyboard.

“Ctrl Alt Del.”

Jingga kala senja

Sayang…
Sore ini kotaku mendung. Langit hitam namun tak jua hujan..

Beberapa rintik sempat jatuh kebumi. Beberapa saja, tak mampu membasahi dahaga rumput, bahkan tak lebih basah dari embun pagi.

Kau tau sayang..aku menyukai hujan pertama yang jatuh ke bumi. Aku suka saat titik air terburu mencumbu tanah. Aku anggap sebagai cara langit memeluk bumi.

Aku suka melihat daun yang bergoyang di gelitik hujan. Daun menari dengan iringan rintik yang memukul mukul atap dan kaca jendela.

Aku suka melihat kanak kanak yang bertelanjang kaki, berlari dibawah guyuran rindu langit pada bumi.

Dan setelah hujan reda, ini yang aku sukai aroma tanah basah, katanya disebabkan oleh sejenis bakteri. Petrichor! Aroma yang memberikan efek menenangkan.

Tapi..sore ini tak ada langit mencumbu bumi, tak ada daun menari, tak ada kanak kanak berlari, tak tercium aroma petrichor. Mendung saja..tanpa hujan.

Tapi setidaknya ini mendung.. Langit melankolis magis. Dan aku punya harapan sebentar lagi hujan. Entah sebentar dalam hitungan jam atau hari.

Kalau hujan saja bisa kurindui, kutunggu sampai seperti ini. Apalagi kamu..
Separuh nafasku..
Lelaki yang dengannya surga terasa lebih dekat 🙂

Sebuah nasehat

Hati wanita itu selembut kapas„,

kau tahu kapas ??

Jika bagian ujungnya terkena setetes air, maka akan ikut basahlah seluruh bagiannya…

begitu pula jika terkena percikan api, maka akan ikut terbakarlah seluruhnya..

Maka bersikap lemah lembutlah kepadanya„

Jagalah perasaannya..

jangan menebar benih harapan jika tidak ingin berkomitmen sungguh-sungguh dengannya..

Karna kau tahu ?? sesungguhnya walau kapas itu terlihat lembut dan tegar, namun ia begitu rapuh„„

Sebuah Nasehat (via fajarembun)

Kosong

Aku mengulangi lagi…
Orang mungkin akan membodoh bodohiku lagi..
Dan memang benar aku tak tau arah..
Tak belajar rasanya terombang ambing tanpa arah..
Namun jika jalan yang penuh arah itu justru tak bisa memberikan kedamaian..
Apa salah jika kulampui lagi jalan tak berarah ini… ?

Semenjak bisa merasa kehilangan dengan sangat,, aku tak lagi akur dengan hatiku..
Aku takut hal itu terjadi lagi..
Aku tak mau lagi menggantungkan harapanku pd seseorang.
Karena berkali kali kutaruh rasa percaya. Yang ada hanya rasa harap yang terus membesar seperti rasa kecewa yg mengikutinya pula setiap harapan itu kembali sirna.

aaaaah…. hatiku ini sepertinya sedang bermasalah, terlalu sensitif dan kolot!

Banyak yang menyarankan untuk memperbaiki beberapa bagian di dalam sekat-sekat hati ini,

Terimakasih kawan,,,

kalian sudah membantuku,,

namun aku juga sudah berusaha untuk dapat hidup lebih tentram dan damai lagi

percayalah 🙂

7 Kejelekan menjadi single

Well, you know what? Nggak selamanya jadi single itu menyenangkan. Saya pikir saya harus segera membuat ‘album’ Bahahaha… kayak penyanyi aja. Back to topic. Ok, jadi single yang saya maksud adalah ‘jomblo’ aka belum punya komitmen dengan lawan jenis.

Dan, kenapa saya bilang jadi single itu jelek? Sebenarnya sih ada asyiknya, tapi kali ini ijinkan saya mengungkap kejelekannya.

1. Pas jalan sama si A (lawan jenis dan padahal cuma teman) kemudian kita ketemu teman lainnya (baik yang nyinyir maupun tidak) biasanya langsung dikira pacaran. Percayalah, saya sering merasakannya _ _!“

2. Saat lagi foto sama lawan jenis juga sama, dikira ada hubungan spesial. Padahal belum tentu juga, bisa jadi kan saya emang bakat jadi foto model. Damn! kenapa nggak ada yang menyadari betapa fotogeniknya saya sih.

3. Pas lagi malam minggu, dan kebetulan nggak ada teman yang ngajakin jalan. Hosh mish gosh… beneran nggak asyik banget. Dan thanks to Twitter yang masih bisa ngertiin perasaan saya.

4. Tapi juga nggak selamanya sih Twitter bisa ngerti, apalagi kalau udah ada yang mulai penggalauan massal. Dan kemudian kita menyadari bahwa, damn! masih single.

5. Kebayang kan ngeliat baju couple yang lucu-lucu? Hei, jangan dibayangin baju couple yang ‘He’s mine’ ‘She’s mine’ itu kuno! Seriously kuno! Ada kok baju couple yang lucu banget dan bikin pengen punya. Dan saat itulah kepala kayak habis ditimpuk 1000 candi. Hokehhhh iye iye saya ngerti saya masih single! Alhasil mupenglah saya melihat baju couple tersebut.

6. Jalan-jalan dan lewat counter perfume. Eh, nemuin promo perfume. Aromanya enak, dan sayangnya promo bundling couple. Sudah berbusa merayu si mbak SPG counter tersebut, nggak juga dibolehin beli perfume tanpa pasangannya. “Wajib beli bundling, Mbak…” Ah… nyesek!

7. Yang gak kalah nyesek lagi adalah, ketika lagi sedih, pengen banget kepala diusep-usep, pengen bersandar, dan ketika kamu nenggok yang ada hanyalah guling dan bantal. Goshhhhh!!!

Dan begitulah, ada yang ngerasain hal yang sama? silahkan ngacung. Yak, cukup ngacungnya. Let’s move on!

(catatan si bee)